Timnas U-19 berhasil melaju ke babak semi final Piala AFF U-19 setelah bermain imbang 1-1 melawan Malaysia. Di semi final Indonesia akan bertemu dengan saudara muda, Timor Leste.
Pertandingan tentu akan berlangsung menarik dan tidak hanya melibatkan persoalan teknis sepak bola. Timor Leste dulunya merupakan bagian dari Indonesia dan kemudian merdeka. Kedekatan dan adanya masalah di masa lalu seperti tragedi Santa Cruz tentu akan menghangatkan pertandingan ini.
Indonesia ditarget juara di ajang ini. Maklum saja, kita memang haus akan gelar juara. Sejak 1991, timnas senior tidak pernah meraih juara di level Asia Tenggara, baik Piala AFF maupun medali emas SEA Games.
Garuda muda yang dikapteni oleh Evan Dimas ini tentu menjadi tumpuan pelepas dahaga gelar juara bagi pecinta sepak bola di tanah air. Harapan jangka pendek yang bisa menjadi pemacu anak asuh Indra Sjafri atau justru memberikan beban berat di pundak mereka.
Lebih dari itu sebenarnya ada harapan jangka panjang terhadap tim ini. Komposisi tim ini dihuni rata-rata pemuda berusia 18 tahun. Dua tahun mendatang mereka bisa menjadi tumpuan timnas U-23 untuk merebut medali emas. Setelah itu mereka bisa diharapkan untuk menjadi bagian dari timnas senior.
Melihat sepak terjang mereka selama ini, harapan itu layak disematkan di pundak Evan Dimas dkk. Tetapi, pertanyaannya, apakah mereka bisa konsisten bermain apik dan meningkatkan kualitas teknik bermain sepak bolanya seiring dengan pertambahan usia mereka?
Ini pertanyaan klasik bagi sepak bola Indonesia. Lantaran selama ini banyak pemain muda berbakat yang layu sebelum berkembang seutuhnya. Gunawan Dwi Cahyo, misalnya, bek tengah timnas U-23 di SEA Games Jakarta-Palembang 2011. Dia menjadi pemain inti dan mampu mencetak gol di partai final.
Namun, setelahnya dia lebih banyak menjadi bahan berita bagi infotainment dibanding media olahraga akibat hubungannya dengan Okie Agustina, mantan istri Pasha Ungu. Sorot media dan gemerlap dunia selebritas kemudian membuat kemampuan olah bolanya menurun. Dia tidak lagi dipanggil untuk memperkuat timnas. Karir sepak bolanya juga tidak berjalan dengan baik. Tidak banyak klub yang ingin menggunakan jasanya.
Gunawan hanya satu dari sekian banyak pesepakbola Indonesia yang menurun performanya setelah memperoleh liputan yang luar biasa. Ada yang masih bisa bangkit dari keterpurukan dan tidak sedikit yang karirnya medioker padahal sebelumnya berlabel pemain timnas.
Ada dua hal yang bisa dijadikan hipotesis. Pertama, pemain yang mendapat pemberitaan besar di media kemudian merasa dirinya menjadi bintang. Kemudian mereka besar kepala dan enggan berlatih keras untuk menjaga kondisi fisik serta meningkatkan kemampuan. Kedua, sistem liga kita yang memang belum bagus sehingga tidak bisa menempa pemain muda untuk bisa meningkatkan kualitas teknik olah bola serta mental.
Kedua hipotesis ini bisa dipergunakan dan sama-sama saling terkait. Keduanya menunjukkan bahwa kerja keras dan mental pemain saling melengkapi.
Kalau tidak siap mental untuk menjadi bintang, biasanya mereka sudah terlena dengan pemberitaan media dan ajakan foto dari fans. Lantas karena sudah merasa hebat, pemain ini akan malas berlatih.
Oleh karenanya kita sebagai orang di luar sistem pembinaan sepak bola menjaga agar pemain muda ini tetap menapak bumi. Menyanjung mereka bak pahlawan boleh-boleh saja, tetapi juga menuntut mereka untuk terus meningkatkan kemampuannya.
Cristiano Ronaldo walaupun punya popularitas yang luar biasa dan gaji selangit tetap menjaga kondisinya dengan sangat baik. Setiap hari, pemain yang akrab disapa CR7 ini melakukan sit up setidaknya 1000 kali per hari. Dia juga terus melatih tendangan bebas yang seringkali sampai menyakiti kakinya.
David Beckham, figur paling berpengaruh dalam dunia sepak bola yang sudah memutuskan pensiun di akhir musim lalu ini juga bisa menjadi contoh. Becks kerap disebut sebagai selebritas lapangan hijau. Banyak yang menganggap bahwa pesona ketampanan dan kepentingan pasar saja yang membuatnya tetap dikontrak klub besar.
Namun, tidak banyak yang tahu kalau Becks sering menambah porsi latihannya di luar jam latihan tim. Ketika masih berkostum LA Galaxy, setiap jeda kompetisi Becks memilih untuk bergabung dengan AC Milan agar tetap bermain di level tertinggi. Becks juga pernah bergabung dalam latihan Arsenal dan Tottenham Hotspurs saat jeda kompetisi MLS.
Jika itu lebih pada pendekatan mental personal. Diperlukan juga iklim kompetisi yang kondusif untuk merawat bakat pemain muda seperti pemuda-pemuda yang tergabung dalam timnas U-19 ini.
Kita harus akhiri dualisme liga ini. Musim depan ketika liga bersatu, pengawasan dan pengelolaan tentu akan lebih mudah dilakukan. PSSI dan operator liga perlu mempertimbangkan untuk mengurangi kuota pemain asing atau ada regulasi untuk memberi kesempatan pemain muda memperoleh menit bermain di liga tingkat nasional.
Kompetisi usia muda seperti LSI U-21, juga harus tetap diselenggarakan. Akan lebih baik lagi jika ada kompetisi berjenjang di setiap kelompok umur, seperti liga U-19, U-17, dan lainnya. Jika masih sulit untuk menyelenggarakan kompetisi berskala nasional, regulasi bisa dibuat untuk “memaksa” klub-klub profesional memiliki akademi atau setidaknya tim di usia muda. Nantinya tim-tim tersebut dipertandingkan sesuai regional saja. Biaya operasionalnya cukup murah dan yang terpenting memberi pengalaman bermain yang baik bagi pemain muda.
Dalam piramida pembinaan, liga memang memegang peranan penting. Pembinaan usia muda akan menghasilkan pemain-pemain yang bagus jika ditopang oleh keberadaan liga yang profesional, jelas, dan memiliki iklim kondusif.
Di liga inilah pesepakbola ditempa baik secara kualitas teknik maupun mental. Dengan adanya pertandingan, akan terlihat mana kualitas pemain yang bagus dan tidak. Mental bertandingnya pun akan terasah. Jangan sepelekan mental. Jika pemain tidak punya mental yang kuat, saat dipercaya turun bertanding dia akan kebingungan dan takut ketika harus berduel dengan lawan.
Sekarang ini tugas paling dekat bagi kita adalah memberi dukungan sekaligus kritikan. Ya, kita harus memberikan kritik pedas pada permainan pemain-pemain muda yang ada di timnas U-19 ini agar mereka terpacu untuk menempa dan membuktikan diri. Mereka memang lebih perlu kritikan daripada pujian agar mereka di masa mendatang memiliki karir yang langgeng dan bisa meningkatkan kemampuannya. Kalau mereka berkembang menjadi pemain yang hebat tentu akan bisa membentuk skuat tim nasional yang kuat dan bisa bersaing dengan timnas negara lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar