
Dalam suatu kesempatan, James Pallotta mengatakan kepada awak media
bahwa pemilik Roma sebelumnya tidak melakukan apa-apa untuk memajukan
Roma. Pallotta menambahkan, “Mereka melakukannya untuk hobi dan
kesenangan belaka.”
Kenyataannya memang tak jauh-jauh dari situ. Seperti dilansir New
York Times, kisah pengambilalihan Roma dari keluarga taipan minyak
Sensi ini dimulai dari sehelai tisu.
Suatu hari di tahun 2004, seorang pengacara New York berdarah
Italia, Joseph Tacopina, berkesempatan untuk menyaksikan klub
kesayangannya, Roma, langsung di Stadion Olimpico. Namun, pengalaman
tersebut, menurut Tacopina, tak berjalan sesuai harapan.
“Papan skornya tidak berfungsi. Selain itu, ketika aku ingin
membeli jersey untuk anakku, tak ada satupun yang dijual. Stadionnya
juga kotor,” keluh Tacopina kala itu.
Namun, itu semua justru membuatnya berpikir untuk mengubah juara
Italia tiga kali itu ke arah yang progresif, menuju modernitas. Ia
mencatat apa-apa yang perlu di tisu pembungkus sandwich-nya dan pulang
ke Amerika dengan kepala penuh calon pembeli potensial untuk Roma.
Roma sudah berada di bawah kepemilikan keluarga Sensi sejak tahun
1993 dan mencapai puncak kejayaan di tahun 2001 ketika mereka berhasil
merengkuh scudetto pertama sejak 1983. Hingga kini, scudetto tahun 2001
itu belum sanggup diulangi lagi oleh Roma.
Kemunduran perusahaan minyak keluarga Sensi yang kemudian disusul
oleh wafatnya Franco Sensi membuat kemampuan finansial dan prestasi
Roma perlahan-lahan turut memudar. Roma, di bawah Luciano Spalletti,
memang sempat menjadi penantang utama Internazionale yang begitu dominan
pasca-Calciopoli, namun itu semua tak cukup. Puncaknya kemunduran Roma
di bawah Sensi adalah ketika menelan kekalahan 7-1 dari Manchester
United di Liga Champions 2007/08.
Pada tahun 2010, putri Franco, Rosella, menyerahkan kontrol atas
Roma kepada Bank Unicredit sebagai bagian dari perjanjian penyelesaian
utang. Keluarga Sensi memang sudah tak mampu dan tak mau lagi menjadi
pemilik Roma ketika itu. Unicredit bertugas untuk mencari pemilik baru
untuk Roma dan sampai pemilik baru didapat, Rosella Sensi menjabat
sebagai presiden Roma.
Sampai akhirnya datanglah empat investor Amerika dalam diri
Thomas DiBenedetto, James Pallotta, Michael Ruane, dan Richard D’Amore.
Singkat cerita, grup ini kemudian mengambilalih Roma dengan pembagian
kepemilikan dibagi rata di antara mereka berempat. Thomas DiBenedetto
pun kemudian didaulat menjadi presiden dengan Joe Tacopina menjadi
wakilnya. Tak lupa, Walter Sabatini ditunjuk sebagai transfer guru.
Revolusi
Roma dimulai dengan bermimpi. Mereka ingin seperti Barcelona yang
perkasa sekaligus cantik. Untuk itulah mereka kemudian mendatangkan Luis
Enrique di musim 2011/12. Di musim 2010/11, jabatan Enrique adalah
pelatih Barcelona B. Rekam jejak persis milik Josep Guardiola inilah
yang membuat petinggi Roma tertarik untuk memakai jasa Enrique.
Gelombang transfer besar-besaran pun terjadi. Mereka mendatangkan
pemain-pemain yang dianggap mampu bermain sesuai skema Enrique. Semua
bergaya kontinental dan cenderung berbau Latin.
Hasilnya? Gagal total.
Roma sulit sekali menang. Bahkan untuk bermain sesuai keinginan
Enrique pun sulit. Agaknya, perubahan yang dilakukan memang terlalu
drastis. 16 kali menang, 8 kali imbang, 14 kali kalah, 60 kali mencetak
gol dan 54 kali kemasukan bukan catatan yang menyenangkan untuk tim yang
menghabiskan lebih dari 80 juta euro di bursa transfer.
Enrique mengundurkan diri musim berikutnya dan kembali ke Liga Spanyol.
Musim 2012/13 adalah musim yang aneh untuk Roma. Setelah bermimpi
di musim sebelumnya, mereka justru kemudian bernostalgia. Mereka
mengontrak kembali Zdenek Zeman setelah belasan tahun berpisah.
Alasan
penunjukkan Zeman memang lebih didasar romantisme alih-alih logika. Ada
pula indikasi bahwa penunjukkan Zeman juga didasari oleh hipsterisme
karena, setelah membawa Pescara promosi, euforia publik akan Zemanlandia
kembali merekah. Zemanlandia adalah gaya bermain gung-ho alias
menyerang total ala Zeman. Dengan filosofi ini, ia mengorbankan Daniele
De Rossi dan memilih Panagiotis Tachtsidis sebagai box-to-box
midfielder. Sangat tidak populer tentunya.
Hasilnya? Lagi-lagi gagal.
Zeman diberhentikan sebelum musim berakhir dan asisten pelatih
Roma selama sejak era Spalletti, Aurelio Andreazzoli didapuk menjadi
caretaker. Andreazzoli gagal menyelamatkan kapal Roma yang kadung karam
meski penampilan Roma di bawahnya menunjukkan tren positif.
Baru di musim ini, Roma menemukan bentuk yang mereka cari selama dua tahun sebelumnya.
Rudi
Garcia, pelatih dengan rekam jejak apik di negara asalnya, Prancis,
mampu membawa Roma bersaing di papan atas. Roma di bawah Garcia sempat
pula mencatatkan rekor kemenangan beruntun terbanyak sebanyak 10 kali.
Selain itu, lini belakang Roma pun hingga kini mencatat rekor terbaik
dengan hanya kebobolan 14 gol.
Sayangnya, Roma masih belum mampu bersaing dengan Juventus yang
secara perlahan berhasil meninggalkan mereka karena kedalaman skuat yang
memang kalah. Absennya Francesco Totti dan beberapa pemain kunci lain
membuat Roma terengah-engah dan kini, mereka terkunci di posisi kedua
klasemen sementara Serie A.
Gelar juara memang belum bisa mereka genggam musim ini, tetapi,
di beberapa aspek, mereka terus menunjukkan tren meningkat. Pallotta
yang saat ini jadi presiden berhasil menunjukkan kepada publik bahwa
Roma, apabila ditangani secara profesional, akan bisa bersaing di papan
atas Italia, bahkan Eropa.
Ada beberapa perubahan signifikan yang
ditunjukkan rezim Amerika ini di Roma. Pertama, penggunaan media sosial
seperti Twitter dan Facebook. Sudah tak perlu lagi dijelaskan
signifikansi media sosial di kehidupan modern saat ini dan Roma berusaha
untuk mengoptimalkan situs jejaring sosial tersebut untuk berpromosi
dan berkomunikasi. Sesuatu yang tak akan pernah terpikir oleh keluarga
Sensi.
Kedua, tren keuangan yang terus membaik. Di musim 2012/13, Roma
memang belum berhasil mencatat keuntungan. Namun, di musim ini, tren
untuk itu semakin nyata terlihat. Dari hasil penjualan pemain saja, Roma
sudah mendapat untung sebesar 16 juta euro. Belum lagi performa apik
mereka musim ini yang tentunya akan membawa banyak penonton ke stadion.
Ditambah lagi, musim depan, jika benar-benar lolos ke Liga Champions,
keuntungan finansial bukan lagi barang tak mungkin.
Ketiga, visi soal pembangunan stadion. Di tahun 2013 lalu, berita
soal pembangunan stadion baru Roma semakin kencang terdengar. Bukan
apa-apa, Olimpico memang sudah usang dan terlalu besar. Rencananya,
stadion baru ini akan dibuat dengan gaya Inggris, tanpa sentelban dan
tanpa pagar pembatas. Bicara soal pagar pembatas, ada satu pernyataan
menarik dari Pallotta soal kaitan antara pagar pembatas dan perilaku
suporter. Katanya, “Kalau manusia kalian tempatkan di balik kerangkeng,
sudah tentu mereka akan berperilaku bak hewan".
Pallotta dan kawan-kawan memang tipikal pemilik Amerika sejati yang
menganggap bisnis adalah bisnis dan harus diperlakukan laiknya bisnis.
Pallotta sendiri pernah mengakui bahwa ia bukan penggemar berat sepak
bola, tetapi ia melihat adanya satu hal menarik dari Roma. Dari awal, ia
tertarik kepada Roma karena brand Roma dan kota Roma. Ia menganggap,
Roma sudah punya dasar brand yang kuat dan hanya perlu sedikit polesan
saja untuk bisa maju.
Pallotta cs memang baru saja memulai namun hasil profesionalisme
kerja mereka perlahan-lahan sudah mampu dinikmati. Serie A, dalam hal
profesionalisme manajemen klub memang tertinggal dari Inggris dan
Jerman. Mereka memandang calcio sebagai sesuatu yang romantis dan bukan
sesuatu yang bisa menghasilkan keuntungan finansial. Keberadaan
orang-orang seperti Pallotta cs seharusnya mampu memberi contoh kepada
pelaku calcio lain bagaimana sebuah klub seharusnya dijalankan.
Setelah lepasnya Roma dari keluarga Sensi, baru-baru ini, dinasti
Morratti juga kemudian melepaskan Internazionale yang dicintainya
kepada investor asing. Taipan media asal Indonesia, Erick Thohir, lewat
negosiasi yang alot dan berlarut, akhirnya berhasil mengambilalih
Internazionale dari Massimo Morratti. Investasi asing dalam dunia sepak
bola seharusnya tak lagi menjadi hal tabu selama investasi itu tidak
disalahgunakan seperti dalam kasus Manchester United dan keluarga
Glazer.
Revolusi di Roma ini adalah angin segar bagi modernisasi Serie A
secara keseluruhan. Dengan keberadaan investor-investor asing di Roma
dan kini juga Inter, diharapkan tim-tim Serie A lain mau membuka diri
kepada hal baru agar tak cepat-cepat menjadi artefak di museum sepak
bola.