Minggu, 30 Maret 2014

Manuel Pellegrini: Arsenal Masih Bisa Juara Liga Primer Inggris


Pelatih Manchester City Manuel Pellegrini enggan mencoret Arsenal dari perburuan gelar juara Liga Primer Inggris musim ini.

Seperti yang diketahui, The Gunners banyak diklaim sudah tidak mungkin lagi bersaing dengan City, Liverpool dan Chelsea untuk posisi puncak setelah ditumbangkan The Blues dengan skor 6-0 dan kemudian ditahan imbang Swansea City dengan skor 2-2.

"Saya pikir Arsenal memiliki peluang untuk memenangkan gelar juara," ujar Pellegrini. "Mungkin mereka tidak bermain baik atau tidak mendapatkan hasil yang mereka butuhkan dalam dua pertandingan terakhir.

"Tetapi saya pikir semua tim juga akan kehilangan poin dari saat ini hingga akhir musim, jadi saya akan terus berpikir bahwa Arsenal memiliki peluang besar untuk bersaing merebut juara."

City berada di posisi ketiga, tertinggal tiga angka di belakang Chelsea, namun memiliki tabungan dua pertandingan lebih sedikit.

Kamis, 27 Maret 2014

Paul Scholes Kritik Performa Marouane Fellaini


Legenda Manchester United Paul Scholes secara terang-terangan mengkritisi performa seorang Marouane Fellaini di musim ini.

Seperti diketahui, meski didatangkan dari Everton dengan nilai mencapai £27 juta pada musim panas kemarin, namun gelandang asal Belgia itu belum mampu menciptakan gol, atau pun assist di Liga Primer pada kompetisi kali ini.

Menanggapi performa Fellaini yang sebelumnya digadang-gadang sebagai suksesornya, Scholes berkata: “Dia belum mengeluarkan kemampuan terbaik, benar kan? Anda harus mengakuinya,” ujar sang legenda saat bertugas sebagai seorang pandit di salah satu stasiun televisi di Inggris.

“Dia sempat mengalami masalah dengan pergelangan tangan dan saya tahu ia melewatkan banyak laga namun, untuk uang yang mereka [United] bayarkan demi menebusnya, saya mengharapkan banyak hal, jujur saja.

“Saya sendiri mengharapkan beberapa gol darinya paling tidak. Untuk seorang gelandang di Manchester United yang ditebus senilai £27 juta, saya mengharapkan beberapa gol!”



Rabu, 26 Maret 2014

Manuel Pellegrini Ketagihan Clean Sheet


Kemenangan 3-0 yang diraih Manchester City atas Manchester United pada lanjutan Premier League di Old Trafford, Rabu (26/3/2014) membuat manajer Manuel Pellegrini senang. Pellegrini berharap timnya bisa terus mencatatkan clean sheet dan melanjutkan tren kemenangan.
Dengan kemenangan itu, untuk pertama kalinya Manchester City mencatatkan lima pertandingan tanpa kebobolan di Premier League.
Secara keseluruhan, City untuk pertama kalinya menorehkan lima clean sheet secara beruntun di liga tertinggi sejak 1915. The Citizens sekaligus untuk pertama kalinya tak terkalahkan dalam sembilan laga tandang.
“Kami senang bisa mencatatkan clean sheet dalam lima pertandingan beruntun. Kami masih harus memainkan sembilan pertandingan lagi dan penting bagi kami untuk melanjutkan catatan ini,” tutur Pellegrini dikutip Tribunnews.com dari Premierleague.com.
Tambahan tiga angka mengangkat posisi Manchester City ke peringkat kedua klasemen sementara. The Citizens mengoleksi 66 angka, terpaut tiga angka dari Chelsea yang berada di posisi puncak.
Dengan 29 pertandingan, City unggul satu angka dari Liverpool yang berada di peringkat ketiga dan unggul tiga angka dari Arsenal yang berada di peringkat keempat. Chelsea, Liverpool, dan Arsenal sudah 31 kali bertanding.

Selasa, 25 Maret 2014

Xavi Tanggapi Kritikan Cristiano Ronaldo Terhadap Wasit


Gelandang Barcelona Xavi menilai Cristiano Ronaldo melakukan kesalahan dengan mengkritik wasit Alberto Undiano usai pertandingan El Clasico akhir pekan kemarin.

Seperti yang diketahui, Ronaldo mengklaim wasit membantu Barcelona meraih tiga angka di Santiago Bernabeu setelah tim tamu mendapatkan dua penalti dan tim tuan rumah mendapat satu kartu merah.

Namun, Xavi menilai Undiano tidak melakukan kesalahan ketika memutuskan untuk memberikan tiga penalti pada pertandingan El Clasico tersebut.

"Cristiano salah dan kritikan dia keterlaluan. Barca lebih superior, kami bermain lebih baik dari Real Madrid dan itu terlihat di hasil akhir," ujar Xavi.

"Sejauh yang saya tahu, itu semua adalah penalti [tiga penalti di El Clasico], termasuk ketika Dani Alves melanggar Cristiano, dari apa yang bisa saya lihat di atas lapangan."

Kedua tim akan bertemu kembali di final Copa del Rey bulan depan.

Minggu, 23 Maret 2014

Sengit, Marquez Kalahkan Rossi di GP Qatar


Repsol Honda sekaligus juara dunia 2013, Marc Marquez, sukses merebut kemenangan dalam perlombaan pertama MotoGP 2014 di Sirkuit Losail, Senin, 24 Maret 2014. Marquez melahap 22 putaran dengan catatan waktu 42 menit 40,561 detik.
Akan tetapi, Marquez tak merebut kemenangan pertamanya di musim ini dengan mudah. Pembalap asal Spanyol itu harus bersaing ketrat dengan Valentino Rossi.
Jalannya balapan pun sangat seru. Jorge Lorenzo yang mengawali lomba dari urutan 5 langsung memimpin rombongan. Namun, belum genap melewati satu putaran, Lorenzo terjatuh dari tunggangannya. Posisi satu lalu dipegang Stefan Bradl, diikuti Marquez, Smith.
Rossi, yang start dari posisi 10, perlahan-lahan merengsek ke depan. Dengan segudang pengalamannya, pembalap asal italia itu berhasil menempati urutan ketiga. Persaingan Marquez dengan Rossi muncul setelah Bradl juga harus terjatuh dari motornya ketika balapan tersisa 14 putaran.
Rekan setim Marquez, Dani Pedrosa, berhasil melaju hingga ke urutan tiga. Rossi pun diapit duo Honda. Sembilan lap menjelang finis, Marquez mampu menyalip Rossi. Beberapa lap selanjutnya terjadi adu sengit antara Rossi dan Marquez untuk merebut posisi 1. Rossi sempat merebut tempat Marquez, tapi Marquez kambali lagi memimpin balapan.
Perebutan posisi pertama akhirnya memuncak di dua putaran terakhir. Rossi dan Marquez saling bertukar posisi. Setelah saling mendahului, akhirnya Marquez berhasil menyentuh garis finis lebih dulu.
Pedrosa menempati posisi ketiga, diikuti pembalap Forward Yamaha yang menguasai sesi latihan, Aleix Espargaro.
Hasil MotoGP Qatar:

1. Marc Marquez Repsol Honda 42menit 40.561 detik
2. Valentino Rossi Movistar Yamaha +0.259 detik
3. Dani Pedrosa Repsol Honda +3.370 detik
4. Aleix Espargaro Forward Yamaha+11.623 detik
5. Andrea Dovizioso Ducati +12.159 detik
6. Cal Crutchlow Ducati +28.526 detik
7. Scott Redding Honda Gresini +32.593 detik
8. Nicky Hayden Drive M7 Aspar +32.628 detik
9. Colin Edwards Forward Yamaha +39.547 detik
10. Andrea Iannone Pramac Racing +43.360 detik
11. Hiroshi Aoyama Drive M7 Aspar +46.595 detik
12. Yonny Hernandez Pramac+46.688 detik
13. Karel Abraham Cardion AB +50.581 detik
14. Danilo Petrucci IodaRacing Project +1menit 3.127 detik
15. Broc Parkes Paul Bird +1m 14.386 detik
16. Michael Laverty Paul Bird +1menit 32.593 detik
17. Mike Di Meglio Avintia +1menit 36.085 detik

Gagal finis:
Alvaro Bautista Honda Gresini
Bradley Smith Yamaha Tech 3
Pol Espargaro Yamaha Tech 3
Stefan Bradl LCR Honda
Hector Barbera Avintia
Jorge Lorenzo Movistar Yamaha

Sabtu, 22 Maret 2014

Laga Real Madrid Kontra Barcelona di Mata Para Legenda

Laga Real Madrid Kontra Barcelona di Mata Para Legenda
EL Clasico harus diakui menyita perhatian semua kalangan tak terkecuali dari kalangan legenda Real Madrid dan Barcelona yang pernah merasakan panasnya semburan hawa panas El Clasico.
Trio legenda Blaugrana misalnya, Allan Simonsen, Andoni Goikoetxea dan Carles Rexach sepakat tim Gerardo Martino wajib pulang dengan tiga angka jika tak mau tertinggal lebih jauh dari Si Putih di klasemen Liga Spanyol.
“Ini sangat penting bagi klub dan pemain, karena pertandingan bisa bisa menentukan keseluruhan liga,” kata Simonse, yang tiga tahun berseragam Barca pada 1978-1982 seperti dilansir goal.com.
Dengan hanya menyisakan sepuluh pertandingan Goikoetxea dan Rexach sepakat menang menjadi harga mati bagi Barcelona.
“Kekalahan akan menempatkan jarak terlalu jauh antara kami dan mereka dan liga bisa berakhir,” tutur Goiko.
“Pertandingan ini kisah yang sangat berbeda dan Barca harus pergi untuk menang,” ujar Rexach yang ikutan nimbrung bersama veteran Barca.
Sementara itu komentar berbau netral dilontarkan mantan pemain Barcelona, Luis Enrique, yang juga pernah membela Real Madrid tersebut.
"Saya pikir akan ada pemenang di pertandingan ini, sebab kedua tim memiliki kemampuan saling mengalahkan satu sama lain. Kami hanya berharap bisa menyaksikan pertandingan yang indah," kata Enrique dilansir sport.es.

Jumat, 21 Maret 2014

Brendan Rodgers: Liverpool Tak Bicarakan Gelar


Manajer Liverpool Brendan Rodgers bersikeras, para pemain dan staf-nya sama sekali tak pernah mendiskusikan peluang menjuarai Liga Primer Inggris musim ini.

Klub Merseyside merah ini memang mendapat pluang emas sejak beberapa tahun terakhir, untuk meraih mahkota liga domestik ini. Mereka hanya terpaut empat poin dari Chelsea yang duduk di puncak klasemen. Walau begitu, Rodgers tetap meminta para pemainnya untuk fokus ke laga akhir pekan melawan Cardiff.

"Tak ada pembicaraan soal gelar satu pun, kami hanya sedang menikmati permainan kami," ujar Rodgers sebagaimana dilansir oleh BBC Sport. "Yang penting bagi kami adalah laga selanjutnya dan Cardiff memiliki hasil positif di kandang mereka."

"Kami telah melakoni laga-laga sulit sejauh ini. Kami akan bicara soal [gelar] di akhir musim saja," tandas Rodgers.

The Reds akan menghadapi Cardiff dengan bekal kemenangan 3-0 atas rival mereka, Manchester United.

Kamis, 20 Maret 2014

Marquez: Saya Bahkan Belum Bisa Jalan 5 Hari Lalu


Marc Marquez menceritakan betapa persiapannya jelang MotoGP 2014 sangat jauh dari maksimal. Sampai sekitar lima hari lalu dia malah sama sekali belum bisa berjalan.

Marquez absen pada dua sesi ujicoba pramusim di Malaysia dan Australia akibat cedera patah tulang di kaki kanannya. Bukan cuma persiapan yang minim, kondisi rider 21 tahun itu hingga kini juga jauh dari ideal karena fisiknya belum 100% pulih.

Dalam konferensi pers jelang MotoGP Qatar, Marquez mengaku kalau persiapan yang dia lakukan jelang tampil di Losail sangatlah berat. Soalnya sampai lima hari lalu dia masih belum bisa berjalan.

"Kakinya semakin membaik dan saat ini rasanya cukup enak. Kita lihat saja apakah di atas motor itu akan menggangguku," sahut Marquez dalam konferensi pers jelang balapan.

"Saya antusias menyambut awal musim karena jeda musim dingin mungkin terlalu lama! Saya harap cederanya akan baik-baik saja saat di atas motor dan setahap demi setahap kami akan mencoba berkembang dan meraih hasil lebih baik. Lima hari lalu saya masih belum bisa berjalan, tapi sekarang sudah membailk," lanjutnya seperti diberitakan Crash.

Meski tengah dibebat cedera, Marquez dianggap Jorge Lorenzo sebagai pebalap yang harus diwaspadai dalam gelaran MotoGP Qatar akhir pekan ini. Lorenzo malah menempatkan Marquez sebagai kandidat juara dunia tahun ini.

"Sangat sulit berada di rumah sementara pebalap lain melahap banyak lap, tapi kondidi fisik saya tidak 100% karena cedera membuatku tak bisa latihan. Jarak tempuh balapan akan menyulitkan, tapi saya merasa bagus dan termotivasi," terang juara dunia termuda itu.

Rabu, 19 Maret 2014

Modernisasi Roma, Angin Segar Serie A


Dalam suatu kesempatan, James Pallotta mengatakan kepada awak media bahwa pemilik Roma sebelumnya tidak melakukan apa-apa untuk memajukan Roma. Pallotta menambahkan, “Mereka melakukannya untuk hobi dan kesenangan belaka.”

Kenyataannya memang tak jauh-jauh dari situ. Seperti dilansir New York Times, kisah pengambilalihan Roma dari keluarga taipan minyak Sensi ini dimulai dari sehelai tisu.

Suatu hari di tahun 2004, seorang pengacara New York berdarah Italia, Joseph Tacopina, berkesempatan untuk menyaksikan klub kesayangannya, Roma, langsung di Stadion Olimpico. Namun, pengalaman tersebut, menurut Tacopina, tak berjalan sesuai harapan.

“Papan skornya tidak berfungsi. Selain itu, ketika aku ingin membeli jersey untuk anakku, tak ada satupun yang dijual. Stadionnya juga kotor,” keluh Tacopina kala itu.

Namun, itu semua justru membuatnya berpikir untuk mengubah juara Italia tiga kali itu ke arah yang progresif, menuju modernitas. Ia mencatat apa-apa yang perlu di tisu pembungkus sandwich-nya dan pulang ke Amerika dengan kepala penuh calon pembeli potensial untuk Roma.

Roma sudah berada di bawah kepemilikan keluarga Sensi sejak tahun 1993 dan mencapai puncak kejayaan di tahun 2001 ketika mereka berhasil merengkuh scudetto pertama sejak 1983. Hingga kini, scudetto tahun 2001 itu belum sanggup diulangi lagi oleh Roma.

Kemunduran perusahaan minyak keluarga Sensi yang kemudian disusul oleh wafatnya Franco Sensi membuat kemampuan finansial dan prestasi Roma perlahan-lahan turut memudar. Roma, di bawah Luciano Spalletti, memang sempat menjadi penantang utama Internazionale yang begitu dominan pasca-Calciopoli, namun itu semua tak cukup. Puncaknya kemunduran Roma di bawah Sensi adalah ketika menelan kekalahan 7-1 dari Manchester United di Liga Champions 2007/08.

Pada tahun 2010, putri Franco, Rosella, menyerahkan kontrol atas Roma kepada Bank Unicredit sebagai bagian dari perjanjian penyelesaian utang. Keluarga Sensi memang sudah tak mampu dan tak mau lagi menjadi pemilik Roma ketika itu. Unicredit bertugas untuk mencari pemilik baru untuk Roma dan sampai pemilik baru didapat, Rosella Sensi menjabat sebagai presiden Roma.

Sampai akhirnya datanglah empat investor Amerika dalam diri Thomas DiBenedetto, James Pallotta, Michael Ruane, dan Richard D’Amore. Singkat cerita, grup ini kemudian mengambilalih Roma dengan pembagian kepemilikan dibagi rata di antara mereka berempat. Thomas DiBenedetto pun kemudian didaulat menjadi presiden dengan Joe Tacopina menjadi wakilnya. Tak lupa, Walter Sabatini ditunjuk sebagai transfer guru.
Revolusi Roma dimulai dengan bermimpi. Mereka ingin seperti Barcelona yang perkasa sekaligus cantik. Untuk itulah mereka kemudian mendatangkan Luis Enrique di musim 2011/12. Di musim 2010/11, jabatan Enrique adalah pelatih Barcelona B. Rekam jejak persis milik Josep Guardiola inilah yang membuat petinggi Roma tertarik untuk memakai jasa Enrique.

Gelombang transfer besar-besaran pun terjadi. Mereka mendatangkan pemain-pemain yang dianggap mampu bermain sesuai skema Enrique. Semua bergaya kontinental dan cenderung berbau Latin.
Hasilnya? Gagal total.
Roma sulit sekali menang. Bahkan untuk bermain sesuai keinginan Enrique pun sulit. Agaknya, perubahan yang dilakukan memang terlalu drastis. 16 kali menang, 8 kali imbang, 14 kali kalah, 60 kali mencetak gol dan 54 kali kemasukan bukan catatan yang menyenangkan untuk tim yang menghabiskan lebih dari 80 juta euro di bursa transfer.

Enrique mengundurkan diri musim berikutnya dan kembali ke Liga Spanyol.

Musim 2012/13 adalah musim yang aneh untuk Roma. Setelah bermimpi di musim sebelumnya, mereka justru kemudian bernostalgia. Mereka mengontrak kembali Zdenek Zeman setelah belasan tahun berpisah.
Alasan penunjukkan Zeman memang lebih didasar romantisme alih-alih logika. Ada pula indikasi bahwa penunjukkan Zeman juga didasari oleh hipsterisme karena, setelah membawa Pescara promosi, euforia publik akan Zemanlandia kembali merekah. Zemanlandia adalah gaya bermain gung-ho alias menyerang total ala Zeman. Dengan filosofi ini, ia mengorbankan Daniele De Rossi dan memilih Panagiotis Tachtsidis sebagai box-to-box midfielder. Sangat tidak populer tentunya.
Hasilnya? Lagi-lagi gagal.

Zeman diberhentikan sebelum musim berakhir dan asisten pelatih Roma selama sejak era Spalletti, Aurelio Andreazzoli didapuk menjadi caretaker. Andreazzoli gagal menyelamatkan kapal Roma yang kadung karam meski penampilan Roma di bawahnya menunjukkan tren positif.

Baru di musim ini, Roma menemukan bentuk yang mereka cari selama dua tahun sebelumnya.
Rudi Garcia, pelatih dengan rekam jejak apik di negara asalnya, Prancis, mampu membawa Roma bersaing di papan atas. Roma di bawah Garcia sempat pula mencatatkan rekor kemenangan beruntun terbanyak sebanyak 10 kali. Selain itu, lini belakang Roma pun hingga kini mencatat rekor terbaik dengan hanya kebobolan 14 gol.

Sayangnya, Roma masih belum mampu bersaing dengan Juventus yang secara perlahan berhasil meninggalkan mereka karena kedalaman skuat yang memang kalah. Absennya Francesco Totti dan beberapa pemain kunci lain membuat Roma terengah-engah dan kini, mereka terkunci di posisi kedua klasemen sementara Serie A.

Gelar juara memang belum bisa mereka genggam musim ini, tetapi, di beberapa aspek, mereka terus menunjukkan tren meningkat. Pallotta yang saat ini jadi presiden berhasil menunjukkan kepada publik bahwa Roma, apabila ditangani secara profesional, akan bisa bersaing di papan atas Italia, bahkan Eropa.
Ada beberapa perubahan signifikan yang ditunjukkan rezim Amerika ini di Roma. Pertama, penggunaan media sosial seperti Twitter dan Facebook. Sudah tak perlu lagi dijelaskan signifikansi media sosial di kehidupan modern saat ini dan Roma berusaha untuk mengoptimalkan situs jejaring sosial tersebut untuk berpromosi dan berkomunikasi. Sesuatu yang tak akan pernah terpikir oleh keluarga Sensi.
Kedua, tren keuangan yang terus membaik. Di musim 2012/13, Roma memang belum berhasil mencatat keuntungan. Namun, di musim ini, tren untuk itu semakin nyata terlihat. Dari hasil penjualan pemain saja, Roma sudah mendapat untung sebesar 16 juta euro. Belum lagi performa apik mereka musim ini yang tentunya akan membawa banyak penonton ke stadion. Ditambah lagi, musim depan, jika benar-benar lolos ke Liga Champions, keuntungan finansial bukan lagi barang tak mungkin.

Ketiga, visi soal pembangunan stadion. Di tahun 2013 lalu, berita soal pembangunan stadion baru Roma semakin kencang terdengar. Bukan apa-apa, Olimpico memang sudah usang dan terlalu besar. Rencananya, stadion baru ini akan dibuat dengan gaya Inggris, tanpa sentelban dan tanpa pagar pembatas. Bicara soal pagar pembatas, ada satu pernyataan menarik dari Pallotta soal kaitan antara pagar pembatas dan perilaku suporter. Katanya, “Kalau manusia kalian tempatkan di balik kerangkeng, sudah tentu mereka akan berperilaku bak hewan".
Pallotta dan kawan-kawan memang tipikal pemilik Amerika sejati yang menganggap bisnis adalah bisnis dan harus diperlakukan laiknya bisnis. Pallotta sendiri pernah mengakui bahwa ia bukan penggemar berat sepak bola, tetapi ia melihat adanya satu hal menarik dari Roma. Dari awal, ia tertarik kepada Roma karena brand Roma dan kota Roma. Ia menganggap, Roma sudah punya dasar brand yang kuat dan hanya perlu sedikit polesan saja untuk bisa maju.

Pallotta cs memang baru saja memulai namun hasil profesionalisme kerja mereka perlahan-lahan sudah mampu dinikmati. Serie A, dalam hal profesionalisme manajemen klub memang tertinggal dari Inggris dan Jerman. Mereka memandang calcio sebagai sesuatu yang romantis dan bukan sesuatu yang bisa menghasilkan keuntungan finansial. Keberadaan orang-orang seperti Pallotta cs seharusnya mampu memberi contoh kepada pelaku calcio lain bagaimana sebuah klub seharusnya dijalankan.

Setelah lepasnya Roma dari keluarga Sensi, baru-baru ini, dinasti Morratti juga kemudian melepaskan Internazionale yang dicintainya kepada investor asing. Taipan media asal Indonesia, Erick Thohir, lewat negosiasi yang alot dan berlarut, akhirnya berhasil mengambilalih Internazionale dari Massimo Morratti. Investasi asing dalam dunia sepak bola seharusnya tak lagi menjadi hal tabu selama investasi itu tidak disalahgunakan seperti dalam kasus Manchester United dan keluarga Glazer.

Revolusi di Roma ini adalah angin segar bagi modernisasi Serie A secara keseluruhan. Dengan keberadaan investor-investor asing di Roma dan kini juga Inter, diharapkan tim-tim Serie A lain mau membuka diri kepada hal baru agar tak cepat-cepat menjadi artefak di museum sepak bola.




Selasa, 18 Maret 2014

Juara All England 2014 Diguyur Bonus Rp 1 Miliar


Dua pasang peraih gelar juara All England 2014, Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan dan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, mendapatkan bonus dengan total Rp 1 miliar, Selasa (18/3/2014).
Bonus ini diberikan oleh Djarum Foundation, Blibli.com, dan yayasan Jaya Raya. Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir masing-masing mendapatkan Rp 200 juta dari Djarum Foundation. Keduanya mendapat tambahan Rp 100 juta dari Blibli.com, karena gelar yang mereka raih merupakan yang ketiga kali berturut-turut.
Bertempat di Grand Indonesia, bonus juga diberikan kepada pelatih ganda putra dan ganda campuran, Richard Mainaky dan Herry IP. Kedua pelatih mendapatkan bonus dengan total senilai Rp 20 juta dari Blibli.com.
Ahsan/Hendra meraih gelar juara ganda putra pertama Indonesia di All England sejak 11 tahun. Pasangan terakhir yang mampu menjadi juara adalah Chandra Wijaya/Sigit Budiarto. Sedangkan gelar juara ganda campuran yang diraih Tontowi/Liliyana pada tahun ini merupakan gelar All England ketiga, yang mereka raih secara beruntun.

Senin, 17 Maret 2014

Jose Mourinho Menolak Jika Chelsea Main Wasitnya Chris Foy


Manajer Chelsea, Jose Mourinho, menolak apabila pertandingan Chelsea kembali dipimpin wasit asal Inggris, Chris Foy.
Tampaknya, Mou masih tak terima keputusan Foy memberinya kartu merah di laga melawan tuan rumah Aston Villa, Minggu (16/3/2014) dinihari.
Secara khusus manajer asal Portugal meminta kepada Komite Wasit Premier League untuk melarang Chris Foy memimpin laga Chelsea pada masa depan.
“Mungkin itu membantu bahwa Komite Wasit Premier League tidak menugaskan Chris Foy di pertandingan Chelsea,” ujar Mourinho seperti dilansir sportmole.
Mourinho diusir wasit setelah mempertanyakan keputusan Foy memberikan kartu merah kepada Ramires di penghujung laga.
Kartu merah itu merupakan yang kedua, sebelumnya Willlian diberikan kartu merah pada menit 68. Di laga itu, Aston Villa menang 1-0 atas Chelsea .
“Saya tidak mempunyai hak untuk meminta itu. Tetapi mereka harus menganalisa situasi ini. Saya pikir mungkin itu keputusan yang bagus,” tuturnya.

Minggu, 16 Maret 2014

PSSI Minta Kepolisian Tak Persulit Izin Pertandingan


PSSI tampaknya sudah mulai gerah dengan sikap pihak Kepolisian yang kerap mempersulit izin pertandingan sepakbola di level kompetisi nasional. Seperti diketahui, setidaknya ada dua laga sepakbola level nasional yang mesti ditunda pada tahun ini, lantaran tidak mendapatkan izin dari Kepolisian sesuai dengan jadwal yang ditetapkan sebelumnya.

Pertama, laga final Inter Island Cup 2014 antara Arema Cronus dan Persib Bandung, yang semestinya digelar di Stadion Gelora Delta Sidoarjo, 25 Januari lalu, harus ditunda lantaran tak dapat izin dari Kepolisian setempat. Waktu pengganti laga tersebut hingga saat ini masih belum ditetapkan PT Liga Indonesia.

Kedua, pertandingan bergengsi Persib Bandung kontra Persija Jakarta, 22 Februari lalu. Namun untuk laga ini, Polda Jawa Barat telah memberikan lampu hijau untuk laga tunda bentrok kedua tim meski dengan beberapa syarat. PT LI pun sudah menetapkan waktu penggantinya, yakni 8 Mei 2014.

Menurut Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin, jika izin tersebut terus dipersulit, akan berpengaruh buruk terhadap nama Indonesia di tingkat internasional. Bisa jadi, lantaran adanya terus menerus kabar mengenai izin yang dipersulit akan membuat tim-tim luar negeri tidak bersedia mengunjungi Indonesia.

Terlebih, respon tim-tim luar negeri untuk menyambangi Indonesia belakangan ini sudah cukup baik.

"Apa yang terjadi termasuk pelarangan pertandingan dari pihak kepolisian itu bisa dengan mudah diketahui dunia internasional melalui berita. Untuk itu, kami berharap pihak kepolisian bisa memahami dan mengerti dengan kondisi ini," ucap Djohar, saat membuka Musprovlub PSSI Sulawesi Selatan.

Dia pun berharap PSSI, masyarakat, dan pihak Kepolisian bisa terus menjalin sinergi dan bersama-sama menjaga keamanan. Sehingga pertandingan bisa dijalankan sesuai jadwal.

"Kami berharap kejadian ini tidak terulang kembali demi perkembangan sepak bola Indonesia. Saya memang sering ditanya orang asing tentang kondisi di Indonesia. Bahkan ada yang mengatakan Indonesia tidak layak dikunjungi," paparnya.

Sabtu, 15 Maret 2014

Luis Suarez: Andres Iniesta Lebih Layak Dapat Ballon D'Or Daripada Lionel Messi


Mantan pemain Barcelona Luis Suarez meyakini Andres Iniesta seharusnya mendapatkan anugerah Ballon d'Or 2010 daripada Lionel Messi yang menjadi pemenang saat itu.

Messi terpilih menjadi pemenang pada tahun 2010 dengan mengungguli dua rekannya, yaitu Iniesta dan Xavi, meskipun kedua pemain itu mengangkat trofi Piala Dunia bersama timnas Spanyol dan menjadi juara La Liga bersama Barcelona.

Tetapi Suarez, yang menjadi satu-satunya pemain Spanyol yang pernah mendapatkan anugerah tersebut menilai Xavi dan Iniesta, yang mencetak gol kemenangan di final Piala Dunia, seharusnya unggul atas Messi.

"Spanyol dalam beberapa tahun terakhir telah melakukan beberapa hal yang sangat penting dan pemain-pemain Spanyol bisa memenangkan Ballon d'Or," ujar Suarez kepada Goal.

"[La Liga] juga memiliki dua pemain yang sangat bagus di level sangat tinggi, Messi dan Cristiano Ronaldo. Tetapi saya pikir tahun ketika Spanyol menjadi juara dunia, Iniesta atau Xavi layak mendapat Ballon d'Or.

"Tidak hanya karena mereka memenangkan Piala Dunia, dan dalam kasus Iniesta, karena dia mencetak gol melawan Belanda dan juga menang bersama Barcelona, seperti Messi, tetapi Iniesta juga menjuarai Piala Dunia dan jika Anda harus menilai apa yang telah Anda lakukan dalam satu tahun terakhir, dari Juni ke Juli, maka Xavi dan Iniesta melakukan hal lebih banyak daripada Messi.

"Kami seharusnya tidak boleh menjadi lebih bingung, Ballon d'Or tidak mengatakan seorang pemain lebih baik atau lebih buruk dari yang lain, ini mengatakan siapa yang bermain lebih baik dalam satu tahun.

"Satu pemain bisa lebih inferior dari pemain lain tetapi bermain lebih baik dalam satu tahun. Tetapi Messi dan Cristiano mencetak gol dan mereka melakukan hal-hal luar biasa. Saya juga memiliki rivalitas dengan Puskas dan Di Stefano.