Kamis, 07 November 2013

Aspek Sepak Bola Modern (Sport Science) di Timnas U-19



Keberhasilan timnas U-19 tidak lepas dari penerapan sports science. Selama ini di sepak bola Indonesia jarang kita dengar ada tim khusus untuk mengurusi statistik pertandingan dan menganalisis permainan. Baik permainan tim maupun calon lawan. Alhasil komentar pelatih timnas kita umumnya “kami buta kekuatan lawan”, ketika menjawab pertanyaan wartawan saat konferensi pers mengenai bagaimana gaya main calon lawan yang akan dihadapi.

Padahal mengetahui kekuatan calon lawan merupakan bekal penting untuk memenangi pertandingan. Bisa jadi karena ketidaktahuan ini timnas sering salah menerapkan strategi sehingga sering kalah. Badan Tim Nasional (BTN) pun akhirnya menyadari kelemahan ini dan meresponnya dengan membentuk High Performance Unit (HPU).

Analisis Statistik dan Mengetahui Kekuatan Lawan 

HPU ini kemudian diawaki oleh Rudy Priyambada. Selain Rudy yang tidak kalah berperan adalah tim Lab Bola. Lab Bola ini merupakan lembaga yang menyediakan data statistik baik selama pertandingan maupun setelah pertandingan. Lab Bola juga memberikan analisis terhadap hasil pertandingan.

Menurut Hardani Maulana, pendiri Lab Bola, di timnas U-19 ini Lab Bola menyediakan data statistik untuk HPU yang dipergunakan untuk menganalisis performa pemain timnas dan calon lawan, data yang disediakan untuk timnas saat jeda pertandingan dan saat selesai pertandingan. Juga data calon lawan yang dianalisis H-1 pertandingan. Data yang kemudian oleh Rudy Priyambada dipresentasikan kepada Indra Sjafri dan tim pelatih untuk dipelajari bersama guna menyiapkan strategi menjelang pertandingan.

Dengan adanya data ini bisa dipergunakan oleh tim pelatih untuk evaluasi. Indra Sjafri sempat kecewa meski timnya memenangi pertandingan melawan Laos dengan skor 4-0. Kebanyakan dari kita sudah sangat senang dengan kemenangan telak itu. Kekecewaan Indra Sjafri bermula dari data statistik pertandingan.

Statistik dari HPU, timnas U-19 melepaskan 462 umpan dengan akurasi 83 persen dengan penguasaan bola 60% berbanding 40% milik Laos. Catatan yang cukup bagus sebenarnya, tetapi ketika dikomparasi dengan statistik timnas U-19 akan mengecewakan lantaran biasanya timnas U-19 rata-rata bisa melepaskan 600 umpan.

Berdasar pada catatan ini, Indra Sjafri pun memberikan pembenahan. Kemampuan mengumpan dan membuka ruang perbaikan. Hasilnya saat melawan Filipina timnas U-19 berhasil melepaskan 688 umpan dengan akurasi mencapai 87%. Catatan yang meningkat cukup tajam dan tentunya membahagiakan Indra Sjafri dan tim pelatih. Jumlah umpan inipun mendekati klub-klub top Eropa yang rata-rata melepaskan 700 umpan setiap pertandingan.

Saat Piala AFF U-19 lalu, timnas U-19 berhasil melepaskan 3.453 umpan dengan akurasi 79 persen dalam tujuh pertandingan. Berarti setiap pertandingan rata-rata timnas U-19 melepaskan 493 operan. Jumlah yang kemudian ditingkatkan di ajang PPA U-19. Ini tentu berkat analisis performa pemain yang kemudian diikuti dengan latihan untuk mengurangi kelemahan dan meningkatkan kemampuan. Harus diakui memang kemampuan mengumpan pemain timnas U-19 ini bagus dan bisa dibilang di atas rata-rata pemain Indonesia pada umumnya.

Krioterapi untuk Menjaga Kondisi Fisik

Selain dari aspek strategi, peningkatan yang cukup bagus di sisi menjaga kondisi fisik pemain. Sepak bola Indonesia terbiasa dengan cara-cara tradisional seperti dipijat untuk menyembuhkan pemain yang cedera. Padahal itu tidak efektif dan tidak jarang itu membuat cedera pemain justru tambah parah.

Untuk aspek ini timnas U-19 memberi kepercayaan pada Alfan Nur sebagai dokter tim dan Adit sebagai fisioterapis. Alfan Nur memberikan sentuhan menarik dengan menerapkan krioterapi bagi setiap pemain setiap usai latihan dan pertandingan.

Krioterapi merupakan terapi yang menggunakan suhu melalui media air. Tahap pertama pemain masuk ke dalam air dengan suhu kamar, biasanya dilakukan di kolam renang di mana setiap pemain melakukan sejumlah gerakan penyegaran selama lima menit.

Kemudian pemain akan masuk ke kolam kecil atau tong seukuran dada yang diisi es batu dengan suhu 0 derajat celcius atau bahkan bisa di bawahnya. Pemain akan diminta berendam selama beberapa menit. Kemudian pemain akan diminta keluar dan selanjutnya masuk ke dalam kolam air hangat. Setelah itu akan kembali ke kolam pertama dan kegiatan ini diulangi hingga 4-5 langkah.

Tujuan krioterapi ini untuk mengembalikan fisiologi otot secara cepat, khususnya sebagai langkah pencegahan cedera atau terapi cedera, baik otot, ligamen, maupun tendon. 50-75% penyembuhan berada pada fase itu. Kalau ditunda, cedera bisa bertambah parah dan menyebar.

Pada mulanya, karena ini konsep baru pemain banyak yang menolak tetapi setelah tahu efek positifnya pemain menjadi merasa butuh dengan krioterapi ini. Bersama dengan Adit, kini krioterapi sudah menjadi program wajib untuk setiap pemain timnas U-19.

Krioterapi ini memang biasa dilakukan di negara dan klub dengan sepak bola maju. Program ini cukup efektif untuk dilakukan. Menurut penuturan Noh Alamshah, mantan penyerang timnas Singapura, ketika dia berlatih di Notts County, klub divisi Championship Liga Inggris, krioterapi seperti ini juga diterapkan. Pemain umumnya senang dengan ini karena tahu manfaatnya yang sudah dirasakan. Tapi, untuk tahap awal wajar jika pemain merasa ogah-ogahan karena harus menahan dinginnya es.

Timnas U-19 selain memberikan gelar juara Piala AFF U-19 dan lolos ke putaran final Piala Asia U-19 juga telah menyadarkan kita semua bahwa sudah saatnya kita memasukkan aspek sports science ke sepak bola nasional. Timnas sudah memulai, semoga ke depan klub juga menerapkan hal serupa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar